post Istimewa

Tampilkan postingan dengan label mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juni 2014

45 days out

Malam ini tiba-tiba seorang teman perempuan yang baru dipisahkan oleh jarak men-chat lewat salah satu jejaring sosial yang memungkinkan kami untuk bertemu secara virtual.

“Kakak Ross”
“Aku Kangennn” said Yanuari Anamia

Suddenly, without any reason dan keinginan untuk meladeni pesan itu sejenak. Beberapa bulir air merabak dari kedua mataku. Sahabat… akh, saudaraku…
Malam ini, seseorang telah memintaku kembali dengan kenangan yang baru saja kami kubur dalam hati yang mendalam. Namun kuakui lewat pesan singkat itu,,, aku juga rindu. Rinduuu teramat sangattt… that’s why I hate “Perpisahan”.


Masih butuh waktu buat Move on. Yupss.. move dari kebiasaan yang hangat yang sangat tak biasa kembali ke suasana yang biasa. suasana yang dulu. Sebelum kita saling bertemu.
Pagi itu kampusku lagi giat bikin acara “Pendadaran” mahasiswa KKN di salah satu gedung termegah di kota Malang yang kebetulan berada di kampusku sendiri, Graha Cakrawala. Sebelumnya, kami para mahasiswa yang mendaftar KKN semester pendek sudah mendaftarkan diri di LP2M (lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat). Lembaga yang ngurusi urusan orang-orang di luar sana, semacam lembaga yang berjasa memanfaatkan jasa kami. Sepertinya begitu… hehe…. V,v

Dari pendaftaran itu kami dibagi menjadi kelompok kerja yang setiap team-nya beranggotakan 20 mahasiswa acak dari berbagai jurusan yang ada dikampusku. Klo nggak ada jurusannya, pasti kagak boleh ikut.. tentunya -,-…

Otomatis tiap orang dari kami pasti tau bakal ditempatkan di desa mana dan dengan manusia yang berlabelkan nama apa. Hahaha… So do I, I know their name. just a name before I keep my KEPO on their social media. Hahaha

Setelah aku membaca draft nama teman satu team, aku harap semua akan biasa. biasa dengan perbedaan dan membiasakan diri dengan karakter baru. Hmmm… maka, pagi itu aku menghadiri pembekalan di Graha Cakrawala dengan hijab yang sedikit dimodel.. yak,, sedikit.( Sedikit saja,,, sapa tau ada semut yang melihatku lalu mereka memberi jalan. Hiksss… #Hina)

Graha Cakrawala menyambutku dengan megah dan penuh semangat yang langsung terbantahkan ketika aku hanya melihat kursi yang tertata rapi di lantai dasar. Tidak adakah kursi dengan hiasan agar kami terlihat sedikit parlente.. Oppsss.. bonafit maksudnya… hehe… setidaknya biar tidak terlihat ala kadarnya. Terakhir aku lihat semua kursi di gedung ini diberi sarung kuning dengan Bordir nama Universitas, saat demo kemarin… dan temanku berhasil memindahkan beberapa sarung kursi menjadi wadah laptop di kosan… mereka memang pemindah barang yang handal. Muehehehe…

Eitsss… balik lagi ke topik utama. Kita kan nggak lagi bahas pindah memindah barang. Okey!!! Yes!

Setelah pembekalan hari pertama, siang di hari yang sama kami dikumpulkan dengan kelompok KKN. Seingatku waktu itu, aku tidak terlalu ngeh. Aku hanya sedikit berbincang dengan seseorang kenalan yang kebetulan namanya sama denganku >.<, selebihnya aku lebih banyak memandang gedung yang megah dan kesibukan tiap manusia. Yang menurutku pemandangan seperti itu lebih seru. Sebenarnya sih karena…. Aku memiliki kesulitan untuk mengingat nama seseorang dalam waktu dekat. Jadi, aku tidak peduli dan memilih melihat yang lain. Hehe

Hari  ke-2 pembekalan, kami dilepas begitu saja… fiuhhhh -.-

Mengingat kepentinganku disela KKN nanti, aku perlu menjaga sikap. Berteater dalam kehidupanku yang mungkin nanti juga akan mengusikku. I don’t care about it. But If we want to take their heart… we should win their heart. Aku tak tau praktek seperti ini ada sejak kapan. Aku hanya ingin melancarkan semua rencanaku. Hanya itu aja kq. Ciyusss bleee… kagak bohong >w<

Masih akan dimulainya program KKN, aku membentengi diriku. Ya, aku harus berbuat baik, aku harus bersikap baik, aku harus rajin dan aku akan membantu semampuku. Namun, apabila esok ada seseorang yang mensabotase jalanku. Jangan tersentak ketika aku mulai membuka mulut.

Hahaha… itu mungkin terkesan drama. Tapi intinya satu, biarkan semua mengalir apa adanya… just let it flow deararasso….

Minggu Pertama : aku sudah merasa tidak betah dengan kelompok KKN yang seperti ini, men-spesialkan Wanita. Its fear… but it’s not a good place for this one. Belanja dengan 2 orang bodyguard, rapat yang stay kalem, ada yang merias diri dan Stalking cewe-cewe.. he fakkk…

Awalnya risih,,, lama-lama ilmu cuekku bisa memenangkan control diri sendiri.
Lama-lama…… di tempat ini, aku bisa merasakan punya teman cewek. Hehe.. soalnya komplotanku kebanyakan cowok.. dan kumpul bareng cewek-cewek itu asyik juga ternyata, meski kita tetep pake perasaan gitu. Terutama kamar tengah. Yang care sama aku lebih dari yang ada dikamarku sendiri. Hmmm.. kalian bikin aku ngerasa punya temen cewek. Bicarain make up, karakter orang, proker, cowok, mencuci, makanan, dan ibu pemilik rumah… Ulallaaaaa
me, tia, bu kades & anggie

kamar tengah ~ Ochy, Daisy, Priestha & Mahmuda


Seumur-umur rasanya baru kali itu aku lebih banyak meluangkan waktuku untuk membicarakan orang lain, membicarakan ketertindasan kami, keinginan kami yang digilas oleh pendapat-pendapat yang lebih tajam dalam rapat. Fakkk… setelah ribuan tahun, gue punya temen cewek yang asik buat cuap-cuap.. love them.. really love them… Daisy, Ochy, Mahmudah, Priestha, Tia dan Bu Kades… kalian istimewa…

Susahnya adalah,,, menghapus nama mereka ketika KKN berakhir. Aku benci perkenalan yang harus diakhiri. Like,….

There is Good in Good Bye and Hell in Hello

Susah untuk move on dari Kranggan, dari hangatnya saudara yang memberi perhatian tanpa diminta. Dari berbagi tanpa harus memberi dan dari komentar yang membangun tanpa harus menjatuhkan lebih dalam. Mungkin kita masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri agar terbiasa dengan keadaan..

45 days out..
Inside problem, we find a gentle feeling

~~~Rose 

Kamis, 27 Maret 2014

Selamat Hari Teater Sedunia, Selamat Berkarya



H-30 become #KepalaDua+1

Truly.. truly ullaallaaaa…

Kamis menakutkan, akhir pekan yang terlalu dini. Dan dari 38 mahasiswa sekelasku yang nempuh matakuliah Kewirausahaan dinyatakan tinggal 1/3 dari total seluruhnya. Penyebabnya aalah dosen yang terlalu killer dan gamang berubah mood yang suka men-judge nggak bener pada mahasiswanya dan seringai menghina dibarengi akhir pekan bikin nyaris hampir semuanya Titip Absen…

Rutinitas aneh ini serta merta tanpa perubahan dan cenderung tetap seperti ini terus dari kemarin,, kemarin,,, dan kemarin dulu,,, its’ okay, yang jelas ntar malem nggak latihan.
27 Maret 2014 merupakan hari yang sakral bagi gue. You know what dear?

Karena kita merayakan Hari Teater Sedunia,
Selamat hari teater… topik tahun ini adalah Kemanusiaan diatas Panggung. Aku yang kasih judul… hahah… kapan lagi kita akan menyadarkan manusia-manusia lain untuk mengerti dan memahami sesamanya, terutama kaum difable. Dan semua itu kapan lagi bakal dipentaskan. Iya kan.. iya to .. udah! Iyain aja..

Sudah hampir lebih dari sebulan lalu, Kak Oella jadi Sutradara untuk pementasan monolog yang dibintangi Rukesi dengan judul “Sayang Nina”. Kebetulan naskahnya asli original buatan sang sutradara sendiri. Jadi lebih mudah untuk pengulasan dan penggambara ceritaa dan latar epic dari jalan cerita termasuk proses sang aktornya sendiri.

Malam ini juga, malam jum’at yang kata orang Jawa keramat. Pementasan ini dieksekusi dihadapan para teaterawan kampus Malang. Acara yang diselenggarakan di Dewan Kesenian Malang pun digagas sama anak Hampa, or My beloved Ketua Umum Annajihin Cam. Dia sebagai pelopor untuk membangkitkan semangat teman-teman teater Malang untuk bareng-bareng bikin acara merayakan Hari Teater… Wuhuiiiii

Ada sebuah accident  di panggung yang sudah disiapkan. Setelah pementasan perkusi anak-anak Universitas Merdeka, ada pemain biola, jimbe, alat music tiup dari cangkang kerang, gitar, bass dkk. Tepuk tangan yang meriah dari penonton waktu mereka turun dari panggung disambut dengan kabut beracun.

Seorang petinggi DKM yang gue nggak tau bagian, badan njemlung rambut dua sentian dan cenderung beruban, bapaknya berkening lebar membuka mulut diatas panggung, didepan ratuasan mahasiswa pecinta teater dengan lantang menghina dina dan menghujat serta merta tanpa member ampun diimbuhi kata cak,, cuk,,, pedes pula…

At least,,, malam itu suasana kacau, mereka merasuki lingkaran yang kami dirikan untuk bersilaturahmi. Dengan dalih meminta seorang untuk dijadikan wakil bagian teater di kantor DKM. What the bulshit there.. 

Hello… kita ini teater kampus, yang merdeka dengan caranya sendiri. Anak-anak teater itu bukan anak-anak yang punya passion cari duit dengan acting. Not at all. Apakah dengan adanya wakil seorang mahasiswa, mereka akan berjalan dengan jalan yang benar?.. no dear.. not. 

Kita ini mahasiswa tingkat belajar, bukan profesionalisme yang seluruh kegiatannya menjadi tanggung jawab untuk dipentaskan dan mendapat duit.. no capitalism there. Kita ini mahasiswa yang jauh-jauh kemari karena berniat untuk mencari ilmu, dengan cara berkuliah di salah satu universitas disini. Jadi, hidup kami nggak segenapnya didedikasikan untuk berteater, tapi belajar mengubah lingkungan dengan teater.

Kadang terselip pertanyaan dalam hati. Apakah mereka juga pernah berfikir seperti ini saat mereka sedang berkuliah? Bukankah passion itu ada saat mereka sudah jadi sarjana dan bingung cari kerja? Atau berniat menambah pekerjaan? esensi kami bukan disitu.
Seandainya kami tercebur disana, mungkin mereka yang akan diuntungkan dengan memperoleh akses menobok-obok rektorat kami dengan berbagai cara. Kan kami kalau mau ngadain kegiatan tinggal buat proposal trus dikirim ke rektorat. Jatah tahunan juga ada. Jadi tinggal minta dan nyerahin pertangung jawaban. .. udah, gitu aja. Kan beda lagi kalau teater independent. Mereka kalau ngadain acara pasti sulit buat dapetin dana. Musti jalan kesini,,, jalan kesana… iklan ini,, iklan itu… semuanya demi dapat duit. 

Bukankah mereka yang kapitalis?

Hey… pikirkan bulat-bulat apa yang kau ucapkan sebelum kamu mengambil tindakan. I believe that age can’t guarantie a mature person..

So,, did you think that we are so Precious??? Pemuda yang mengubah bangsa… Pemuda yang berbicara…

Yo.. yo.. yo… let’s change our world become awesome \(v,v)/


Dan malam ini pun kami masih berdiskusi ditemani dinginnya kota Malang sampai jam 3 dini hari. Owh.. men…

Minggu, 02 Maret 2014

Salah Ajar Mahasi(S)wa

Hey kamu… iya kamu… yang sedang baca tulisan ini. Meski ini tulisan random dan terkenal dengan….. bagaimana lagi ya, ya memang serandom ini.. hahaha…

No.. no.. no.. tulisan ini tentang BACA. Membaca… khusus buat kamu yang sedang nempuh Strata satu alias mahasiswa tingkat sarjana pasti bangga deh dengan almamater kalian. Nggak peduli seperti apa dan sebobrok apa kampusnya. Mau itu kelas elite sampai yang kelas merakyat. Despite them all,,, gue pingin bahas tuntutan utama kita dalam memahami materi yang disampaikan bapak ibu dosen.

Pernahkan kalian dalam satu mata kuliah tertentu harus persentasi dan menguasai materinya? Atau bisa jadi kalian adalah mahasiswa yang “tanpa embel-embel kritis” harus menguasai materi yang akan disampaikan oleh tuh dosen. Nah, of course di dunia yang nyata ini informasi udah berjibun dalam bentuk film dokumenter, video, rekaman atau tulisan di buku diktat dan segala jenis jurnal, laporan ilmiah and so on…

Kadang, kita sebagai mahluk berjenis mahasiswa yang cenderung pemalas buat bongkar buku di perpus atau sekedar buka buku yang udah di beli. Malah milih nyalain gadget, buka browser. Mau mbah google, Babylon search, mozila firefox lan konco-konconipun. That’s okay bleh. Penting informasi yang dicari nggak dimasukin ke dalam skripsi. Hal remeh temeh gini bahaya loh buat kehidupan loh di semester tua. Kebiasaan mengandalkan dunia maya bikin kita nggak kreatif buat nyari buku dengan jenis muatan yang pas sama materi yang lagi kita butuhkan.

Nah, dasar tulisan gue dari sini nih. Habis lihat pak Renaldi Kasali tadi pagi di TV, sebuah ide muncul ke permukaan. Ya, kita sebagai mahasiswa cenderung dimanjakan. Dimanjakan dosen untuk tidak membaca buku diktat. Jangankan yang tebal macam kitab suci, yang kayak komik aja loh males. You know why guys???

Because,,, buat apa kita lama-lama buang waktu hanya untuk baca buku yang isinya penuh dengan materi, kalau yang kita cari akan ada di papan tulis, dan bakal disampaikan sama dosen pada jam kuliah plus  ujian pun kita nggak perlu sibuk. Dosen ahli yang nyuruh kita nyatet materi di papan tulis itu bakal pake tuh materi dalam soal ujian. So, why we should baca buku? Ya nggak sih?
akibat baca buku. diperankan oleh model

Itu kesalah cara ngajar yang bener-benar NAMPAK di depan mata. Seharusnya, tuh dosen jangan Cuma nyuruh mahasiswanya buat baca buku, tapi mahasiswa diposisikan sebagai Partisipan. Ya, mahasiswa yang butuh. Jadi mahasiswa sebagai PARTICIPANT CENTER LEARNING. Biar mahasiswanya yang aktif dan berkembang dengan modal yang bisa dia kembangkan (knowledge). Bukan otoritensi or saklek-nya cara ngajar dosen.

Sayang kan kalau ilmu sebanyak itu yang ada dalam bermacam-macam buku, yang sudah dijadikan arsip dan tak terhingga banyaknya nggak kepakai. Nggak keserap sama otak kita gara-gara salah didik. Oh dear,,, really, its true…..