post Istimewa

Tampilkan postingan dengan label teater. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teater. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 April 2014

Our Silver B'day @ Teater Hampa Indonesia


Tepat di tanggal ini, semua orang ramai-ramai mengucapkan selamat ulang tahun. lebih tepatnya ulang tahun ke 25 semenjak nama ini dilahirkan. bukankah toss kita Hatiku Hatimu Menyatu Dalam Teater Hampa sudah menyatakan bahwa kita adalah satu? satu dalam karya, satu dalam rasa.

sulit untuk mengungkapkan rasa bahagia lewat kata-kata, karena antara A - Z hanya ada huruf yang disejajarkan tanpa pembicaraan dari hatimu sendiri. oke fix ,,,,, i will tell you about my precious time on my 2nd brithday.

24 April 2014, hari kamis.... hari dimana aku harus mengumpulkan semua tugas pemetaan potensi ekonomi daerah. hari itu juga, anak bidangku mempunyai hajat besar untuk merayakan ulang tahun perak. ulang tahun rumah kami yang ke-25 rumah Teater Hampa Indonesia. acara yang sangat dinanti sejak beberapa tahun yang lalu karena ini Perak, sedikit tingkat lebih precious untuk golden age.

Pagi ini aku bangun lebih pagi, tuntutan Tugas Akhir ini begitu menguras pikiranku, u know why? because, kami selama satu semester tidak ada kuliah sama sekali dan diganti sebagai tugas analisis pengamatan pengembangan ekonomi daerah. jadi, aku harus mencari banyak sumber data untuk aku masukkan dalam analisisku. sepanjang pagi sampai siang itu, aku tak pernah sedikit terlalu lama melepas laptop. yaa... you know lah..

karena kecintaan jari-jariku dengan keyboard laptop, sempat beberapa kali ke kamar kecil pun jadi penyesalan. entahlah. setiap detik sangat berharga sekali hari ini. perut yang merongrong pun tidak terasa sama sekali. ya, hari ini aku lupa makan, kebelakang dan lupa untuk segalanya. hanya ada tugas pemetaan potensi ekonomi daerah.

disamping itu, sebagai mimin dunia maya terutama facebook. melepas hari perak jadi beban tersendiri. sembari browsing nyari data, iseng-iseng buka facebook barang 5 menit atau 10 menit. ekh, malah kejebak setengah jam sendiri buat ngasih komentar dan like pada beberapa ucapan selamat ulang tahun untuk rumah tercinta. itung-itung menghormati ucapan tulus mereka yang tercantum lewat staus facebook. dan sempet kepo juga (#ritual wajib).

sampai waktu itu datang. kata offering sebelah, pengumpulan tugasnya pak thomas nggak boleh telat. kudu on time. kalo enggak, laporan yang dikerjakan satu semester itu akan berakhirr sia-sia. beruntungnya,,,, gue datang paling cepet. dan 2 orang terakhir yang datang telat. ruth sama dendy fix bikin temen-temen kena serangan jantung. gila aja bisa telat apalagi nggak ngumpulin. daftar semester depan kalau gitu -,-. so far..... A- bolehlah buat laporan yang gue buat setengah hati dan banyak perjuangan ini :D

at least, selepas tugas mahaberat itu. gue langsung terjun ke sanggar sambil membawa kepala ringan. dan malam ke 25th itu sukses bikin aku percaya sama anak rumtang. selama mereka mau berusaha terutama tanpa aku. aku akan sangat menghargai mereka. terutama untuk ulang tahun perak kita *,*

@rosita_dy

Minggu, 02 Maret 2014

Berbagi dari Hobi yang Sama



biar nggak bosen, game dulu

            Siapa sih orang di dunia ini yang nggak punya hobi? Kamu? Atau temanmu? Wah, klo mereka sampai nggak punya hobi, pasti hidup mereka hina banget. Nggak punya sesuatu yang special yang bisa dilakuin berkali-kali. Hobi atau kegemaran macamnya banyak banget. Ada yang punya hobi membaca tulisan, entah novel, diktat, cerpen, blog atau tulisan di nisan-nisan pun kadang nggak luput. Nyanyi, entah mau nyanyi tinker bell sampe gambang suling. Kagak peduli mau suara nyaring kayak agnes monica sampe suara tong diseret. Who knows?
            Nah, me as humanista… agagaga… juga punya hobi loh. Nyanyi di karaoke meski Cuma kebagian beberapa lagu doang, mesti dapet beberapa celotehan nggak enak  dan selalu jadi tukang penggembira. Eh men, padahal kita itu iuran buat bayar sewanya sama -_-, geblek kannn…. makanya aku jarang karaokean bareng temen-temen. Mending gue bayar full trus nyanyi sendirian selama dua jam sampe mengong-mengong…. Indeed, kalau mereka bawa telur mentah atau tepung asti dilempar ke aku itu! Couse, eperibodhe tau suara eike macam burung parau. Parah… (but, nyanyi adalah bagian dari hidup gue. Apapun itu :p)
            Not only to sing, I can do more… #gayaiklan. Baca novel nomero uno di hidupku. Sering karena khilaf, kadang awal bulan aku main ke toko buku trus ngeberondong 3 novel sekaligus #kadang trus dua hari udah kelar dibaca. Mau setebal al-qur’an atau kamus pun, oke-oke aja… (tapi entah kenapa al-quran pun sebulan nggak khatam). Also to read a name on gravestone. Baca karakter orang pun lagi tahap belajar, senang kalo bisa nerapin nih ilmu. Bisa tau sifat orang dari cara ngomong, gerakin tangan, cara pandang, cara jalan, cara gerakin bola mata dan cara bengkokin tubuh seseorang itu menarikkk sekaleeeee…
            Nyanyi udah, baca udah, renang juga bisa, online and kepoin orang juga rajin, nakaM dimana-mana J, a cup of coffe, badminton, ngatur orang apalagi. Tapi dari sekian banyak hobi, ada satu hobi yang saat ini paling taat aku jalani. Ya, dunia perteateran. Dunia yang penuh dengan kebohongan, gemerlap lampu, make up, dunia bebas dimana kita bisa kritik siapapun di panggung dan penonton hanya menonton. Nggak boleh bersuara sampe pementasan selesai. Ya… suka-suka aja, kan sebelum kita usung ke panggung teater. Kita kaji naskah itu lebih lanjut. Tentang halaman 0. Latar belakang penulis, konflik saat naskah di buat, dan semua hal kita diskusiin sebelum naskah itu benar-benar berbobot untuk dipentasin ke publik.
            Teater, bersandiwara… itu kan yang orang-orang sering bilang? Padahal teater itu bukan berpura-pura, bukan bersandiwara atau berbohong di depan publik. Tapi teater itu adalah mengangkat sebuah tema untuk dipentaskan, dengan “Menjadi” karakter yang ada dalam naskah. Jadi bukan berpura-pura tapi menjadi, bernafas dengan karakter yang diperankan. Hal ini jauhhhh lebih sulit dari sekedar berpura-pura.
            So, at this week kesempatan datang padaku. Ahaha… ya, seorang mantan anak produksiku minta tolong untuk digantikan sementara jam mengajarnya untuk ekstra teater. Ya, just a day to practice theater on class. No more time, I really want to trying my best. My knowledge about theatre and devide it with student at junior high school. Ini pasti menyenangkan sekaliiiii… sedikit rasa gugup, ekh takut juga kalau ntar ternyata aku nggak jauh hebat dari mereka. Eheheh
            Jum’at kemarin aku jemput adik tingkatku yang juga ngajar teater. Kami berdua naik motor dengan kecenya pake beud…. Abis masuk jam 08.05 & kita berangkat dari kosannya jam 08.52. jarak tempuh ke sekolah itu sekitar 15 menit dengan Rpm 70km/h. wah, hari aktif pasti jalanan penuh kendaraan, macet. Aku takut telat, ini berasa kembali ke jaman sekolah dulu. Pufft L
            Akhirnya aku sebagai juru kemudi motor dengan gaya yang nggak kalah kece pegang setir bisa jadi pembalap sekelas valentine rossi. Kebut sana kebut sini, lighting kanan lighting kiri, terjang sela antar mobil, dan yang paling kece itu saat kita meliuk-liuk mendahului kendaraan lain. And tarraaa…… kita sampai di SMPK Cor Jesu kota Malang jam 08.03. dua menit sebelum jam ekstrakurikuler sekolah dimulai.
            Awalnya, aku diserahin kelas 7, si pesut kelas 8. Karena aku nggak pernah ngajar secara resmi sebelumnya, aku bingung mau ngapain dulu. Yang aku pikirin dan nggak ilang-ilang itu malah jangan sampai salam seperti biasanya, we different on religion. Hehe,,, yups, pernah ngajar teater sebelumnya, tapi itu sekedar membagi ilmu ke adik kelas di SMA. apalagi sekarang jurusannya Ekonomi Murni. Nggak ada metodologi pendidikan, psikologi pendidikan, dan apalah itu. So, gimana caranya menguasai orang banyak dan membuat mereka mengerti. Tralalal………aaaaaaaaaaaaaaaaa
            Ternyata mengajar itu menyenangkan. Kelas satu SMP itu nggak beda jauh sama anak kelas 6 SD. Kalau kelas dua SMP itu semacam anak SD yang udah minta diperhatikan karena mereka berbeda, berlagak sok dewasa atau ingin dianggap seperti seorang remaja. Yang jelas,,, need extra sabar, nggak harus menuruti permintaan mereka kq. We just need to be comfort when give a materi. So far, ngajar ekskul teater di SMPK Cor Jesu sempat bikin bingung juga. Soalnya ada beberapa anak yang manja dan mereka minta didorong untuk terus mau mengeksplor kemampuan mereka. Ada juga yang sibuk ngobrol dengan temannya, ada yang pendiem, ada yang curi-curi pandang. Wah lucu pokoknya…. Seru men..
            Minggunya, aku kepoin teman and berniat bantuin ngajar teater di SD-nya. Kalau kemarin murid SMP, gimana murid SD? Apakah seunyu dan semanja atau senakal itu? Wow… aku dapat ijin. Berangkatlah kita tadi pagi ke SD Islam Plus Al Kautsar. Nggak beda sama Cor Jesu, sama-sama sekolah elite yang mungkin bawaannya dimanjain dari rumah. Hmmm… murid SD? Gimana cara ngatur dan ngajarin mereka ya?
latihan tiru gerakan orang pertama
            Ternyata, murid SD itu moody bangetssss… jadi, guru harus ekstra aktif dan kreatif ngasih materi. Mereka pun kalau nggak suka juga bilang nggak, mintanya main terus. Ya permainan-permainan dan meditasi. Lak ngene terus aku lak yo gag sido ngajar, lha njaluke main game terus i. yang ini need ekstra perhatian. Jadi pernah semisal gini, anaknya males dan selalu bilang “Kak Capek, akh bosen kak kalo gitu terus”. Dan kita musti jawab gini “apa meisya sayang? Ah, masak gini capek. Yang semangat ya sayang. Jangan sering bilang tidak bisa, ntar jadi motivasi kamu buat nggak bisa sebelum kamu coba. Ayo… ayo… dicoba lagi, kakak ajarin sini”. Blee… klo begini terus bisa berbusa nih mulut, nggak cocok untuk orang-orang perfeksionisme yang pake cara otoriter dan sekehendaknya sendiri. Dituntut lebih adaptif dan selalu tersenyum menghadapi bocah-bocah kecil, butuh ekstra sabar dan ikhlas agar nggak sia-sia nyampein materinya.
            Oia, murid SD itu jujur-jujur loh. Kalau mereka nggak suka, mereka akan bilang suka. Kalau mereka bilang suka, mereka beneran suka. Meski kadang ada komentar yang mak jlebbb dan mereka nggak ngerasa. Yang penting, disini posisi kita adalah belajar. Belajar menyampaikan materi, membuat orang lain paham maksud kita dan selagi ada media gratis buat praktek kenapa enggak? Kapan lagi kita praktek dan membagi pengetahuan dari hobi yang jadi kegemaran kita? Iya kan? Iya to? Udah… di Iya-in aja…. 
anak kelas 7 latihan dialog dari naskah main





suasana diskusi yang ribut beud...
latihan menghapus jejak siswa kelas 2 SMP

Minggu, 26 Januari 2014

study tour teater ISI Jogja dan titik 0 km parangtritis





Sejak kedatangan kami di kampus seni ini, kami disambut dengan hangat oleh beberapa pengurus HMJ teater. Mereka baik dan suasana yang bersinergi sangat nyaman untuk berkarya. Sempat aku lihat beberapa anak jurusan music dan etnomusikologi sedang belajar bermain Saksofone, gitar dan cello. Pakaian yang bebas ala anak seni bener-bener free pakai disini. Nggak aka nada dosen yang bakal marah gara-gara gak pakai baju berkerah, sepatu, dan pakaian yang sopan dan rapi sangat jarang dijumpai.

Kami belajar banyak disana. Nafas anjing yang bikin kepala pening, headstand yang susah dan aku sukses ngelakuinnya. Yah walaupun posisi berdiri terbalik itu bikin tulang belakang beberapa kali sukses kebanting kebelakang. Latihan make up lewat tengah malam karena kudu nunggu mereka selesai latihan untuk pementasan drama sebagai tugas akhir kakak tingkat mereka. Aku dan hanya beberapa orang dari sanggarku yang masih bertahan asik belajar make up bareng maba teater ISI. Mereka udah ahli rias wajah. Pagi dini hari itu juga aku sebagai model ujicoba harus rela dimake-up-in. latihan selesai sekitar pukul empat pagi. Mata sudah mulai kompromi sama tangan supaya kasih kode kalo ini terlalu pagi dan kami masih belum tidur. Terima kasih untuk alif dan teman-teman yang mau berbagai dengan kami.

Hari sebelumnya kami semua larut dalam diskusi bedah naskah “Ayo”. Naskah yang sudah aku siapkan jauh-jauh hari sebelum berangkat. Dan kamu tau readers? Mereka berrhasil membuka emikiran tentang teater. Pembicaraan itu membuka tiap bilik pemikiran kami yang tertutup sebelumnya. Mengupas segitiga terbalik konflik, pendialogkan, menyikapi SARA dalam artistik yang kami gunakan. Bahkan hal-hal yang remeh temeh seperti halaman nol dalam sebuah naskah drama yang melatarbelakangi semua inti pertunjukan sempat menjadi pembahasan paling hot sore hari.

Ilmu yang banyak kami dapatkan berkat belajar langsung dari Suhu-nya telah memberi pencerahan agar karya kami bertambah kaya dan sarat dengan nilai-nilai seni. Not only that, kita juga berasa kaya secara nafsu makan. Lingkungan kampus ISI Jogja yang deket sama pantai parang tritis juga bikin kantong anak-anak hampa kurus perlahan. Harga-harga yang dipatok disana less than our prediction. Kita bisa ngambil ini, itu, lauk ini, lauk itu, ayam ini, ayam itu, makanannya juga enak. Walau agak manis dikit tapi masih kerasa cita rasa masakan jawanya…tiga hari belajar bareng Suhu yang istimewa… sekalipun banyak rencana yang terbatalkan.

Oia… malam pertama di ISI Jogja waktu itu, beberapa anak udah teller duluan. Dan kita bersepuluh (Mas afdel, aku(rose), dewi, michin, andhika, ihsan, mbak iin, plur, lutfi, ema) penasaran sama benteng kidul keraton jogja. Soalnya denting kidul ada sepasang beringin kembar yang tumbuh berjajar, kalau kita berhasil lewat tengah beringin dalam keadaan mata tertutup. Impian yang kita inginkan bisa terwujud. Itu motivasi terbesar kita buat kesana.

Jalan kaki dari kilometer 6.5 parang tritis. Kami bersepuluh kepayahan. Udah hampir dua jam kami jalan kaki, udah sekitar 10 km jalan tapi masih juga belum sampai benteng kidul. Kita Cuma pake panduan jalan sama tanya keorang yang kami jumpai dijalan. Kita sampai perempatan titik 0 km parangtritis, perempatan prawirotaman dan masih belum ketemu juga sama benteng kidul… bingung ditambah bingung, ,, cakep berasa capek… akhirnya kita nemu taksi yang bisa dikelabui. Taksi min bus itu kita isi 10 orang. Dan Cuma bayar Rp 50.000 sampe depan gerbang ISI Jogja.. hahaha….. lha koq nyampe sana ketemu anak teater ISI trus mereka bilang kalo benteng kidul itu satu blok ke utara dari titik 0 km parangtritis. Sekitar 200meter…. Gila ble…. Iku cedhek banget… tiwas wes mbalik ndek ISI. Pagi dini hari itu, 10 wajah terlihat lesu sambil nyesel tak berdaya…


Malam pertama sekaligus dua hari sebelum aku putuskan untuk go away alone……

Sabtu, 25 Januari 2014

Toba lake… here we’re coming #Medan part 6

satu-satunya foto kita bersama, meskipun yg satu tukang fotonya. kita terlihat seger loh :D
          Pagi itu juga, semua rencana yang udah kita buat jauh-jauh sebelumnya terpaksa digagalkan. Sederhananya, di hari terakhir menempati TBSU kita mendapat jatah jalan-jalan yang udah disediain pihak panitia. Sebagai tukang bawa berkas-berkas yang masih aja kurang lengkap. Pagi itu gue harus dapat tandatangan beberapa orang buat pencairan dana rektorat kampus gue. Gue kudu nunggu orang-orang yang bertugas sebagai panitia sampai ada ditempat. Gue udah biarin temen gue keleleran nggak tau gimana, sedang gue dibasecamp panitia nungguin seseorang sekaligus ngambil tebengan ini-itu juga sekalian nebeng ngeprint itenarinya kayangan yang terbaru.

          Jam delapan pagi udah fix, eh si micin malah pergi ke pasar sama abang guide orang medan buat beli kain Ulos. Entah mau beli berapa puluh lembar, gue Cuma nitip 2 buah aja. Males bawanya, apalagi suruh neteng bawaan sendiri. Ribet ntar. Lagian tadi malam udah tukeran sama bang boy anak Padang. Gue tuker sarung bali pink manis yang belinya pas acara PPA 5 teater orok-Udayana di depansar sama kain ulos hitam bermotif cantik milik bang boy. Beruntunglah dia mau J

          Waktu michin dah balik, kita bongkar lagi ransel-ransel trus ngepackin lagi tuh ransel. Setelah pamitan sama temen-temen senusantara yang akan berangkat tour keliling medan, kita melaju ke terminal Amplas ditemani seorang abang teater ‘O’, bang makin naik angkot seharga Rp 4.000/orang. Dan selalu sama kayak hari-hari sebelumnya, sopir angkot medan itu buas banget. Mereka gak bakalan mikir kita anak siapa, jadi jalannya nglibas semua rambu-rambu dan etika berkendara. Sangarrr pokok’e.
          Dari Amplas, kita nunggu Amy anak teater ‘O’ yang datang bawain kacamatanya mas champin yang tadi pagi ketinggalan d TBSU. Mana sempet hujan deres pula. Bah,,, sampai Amplas aja niat kami udah diuji. “Jalan terus ke Parapat” atau “See you bye-bye Toba kita balik saja”. Niat dan semangat yang kuat itu ngantar kita naik bus jurusan parapat siang itu juga. Tiket busnya Rp 32.000/orang sampai parapat. Kemungkinan kita akan sampai sana jam 4 sore.

          Karena kelelahan, semuanya tertidur lelap. Gue sempet ngrasain sopir busnya, sangar pisan uey klo nyetir. Bahkan kernetnya yang asli batak udah nggak bisa ngomong pelan, pake bentak-bentak para ibu-ibu yang jualan makanan diatas bus supaya cepet keluar. Beh… ngeri ble. Trus seorang ibu yang kebetulan duduk disamping gue sempet tanya

“Boru kau apa? Mo datang ke kematian siapa kau?”
“hah… saya? #gaya pengong, padahal ibuke sandingku pas# oh, saya nggak punya boru buk. Saya orang jawa asli”
“loh, kenapa kau pake tuh ulos hitam?”
“(#gue yang emang pake kain ulos buat selimut baru sadar, emang bener kata anak-anak medan. klo tiap warna ulos itu punya arti). Oh, ini saya beli tadi bu dipasar. Buat kenang-kenangan saja kok. Memangnya kenapa buk?”

Dari situlah percakapan hangat kami dimulai. Gue paling sering tanya soal ulos, kain yang bagus itu bagaimana, harga pasarannya berapa, agama, dan adat istiadat yang berlaku disana.

          Dari rentetan tebing-tebing tinggi yang semakin terbuka, kami bisa melihat danau toba yang sangat cantik warnanya. Udaranya segar seperti daerah Batu-Malang dan masih banyak monyet-monyet di pinggir jalan. Kami turun di pelabuhan Parapat untuk dapat langsung menyebrang ke tomok naik ferri seharga Rp 6.000/orang. Selama perjalanan dengan ferri itu, aku tak henti berucap syukur. Yeah, we hve been there… toba lake, the famous lake in southeast asia. Lihat pemandangan hijaunya, villa disepanjang garis danau. Warna bukit hijau cerah, air terjun, air danau dan langit yang cerah. Dan saat menyebrang itu kami tidak jumpai Adzan Magrib. Tiba di pelabuhan tomok, kami dengan santai jalan kaki. Tak seorang pun dari rombongan kami pernah backpacker sejauh ini.

          Kami jumpai banyak anjing lepas, penjaja shortali, dan becak modifikasi. Jalan kaki kami sudah jauh tapi yang dicari tak kunjung bertemu. Hampir menyerah dengan malam. Jam 7 malam dua orang dari kami mencari kendaraan, diwaktu seperti ini sudah tidak ada lagi angkuan umum. Maka kami menyewa sebuah mobil yang bisa mengantarkan kami ke penginapan seharga kantung mahasiswa. Mobil ini seharga Rp 70.000 sewanya.

          Nggak tau bagaimana mereka berkoalisi, malam itu juga sebuah keluarga batak menerima kami untuk mendiami penginapannya semalam. Itu pun kami masih harus bersikukuh untuk membayar seminimal mungkin #maklum mahasiswa# sampai akhirnya opung memberi harga Rp 150.000 per kamar. Kita ambi dua kamar yang menghadap ke danau. Tepat didepan kamar kita. Malam itu juga kami bongkar ulang ransel dan makan sekenanya. Senang bisa melihat toba, tanpa bintang dan bulan. Kelam, kami datang terlalu malam dan tidak ada yang bisa kami pandang.

          You know what? Kami datang ke toba hanya untuk “Numpang Bubuk” karena kami bertujuh sudah tewas sebelum jam 10 malam. Hahaha…

          Paginya, michin tidak bisa bangun dari tempat tidur, badannya panas dan lebih memilih tidur berselimut tebal. Mbak iin yang sakit sewaktu masih ada di medan juga udah agak mendingan meskipun masih panas (mimisan dan hidungnya pas nggak bisa bersahabat di kota orang) sudah lebih mendingan. Pesut yang badannya terasa paling panas dan sampe suaranya hilang ternyata makin parah aja pas mau nyebrang ke tomok, mas champin juga begitu! Udah suaranya hilang, badannya panas juga. Si ketum tetep stay on toilet, gue nggak tau kenapa kq dia betah dan nggak keluar-keluar dari toilet pagi ini. Kayaknya sih Vomitng. Ihsan tambah sehat aja, soalnya dia yang sakitnya paling lama. Lebih dari seminggu sejak beberapa hari menjelang berangkat ke medan dan sampai beberapa hari tinggal di medan. maklum, nggak tau kenapa matanya nggak bisa diajak kompromi. Padahal udah dicekokin obat mahal berkali-kali. Sedang gue…. ~(-,-)~ gue yang selalu berusaha terlihat sehat dan tanggap harus tumbang dan angkat tangan sejak perjalanan naik bus sampai bermalam di toba. Gila men!!! Perut gue mules banget, nggak kayak bulan-bulan biasanya. Ini bikin gue gak bisa move on dan cenderung diam aja. Ya… kita ke toba Cuma pingin ketemu airnya, sekalipun kita semua dibikin sakit (=,=)


          Pagi itu juga yang udah kita rencanain buat bangun subuh terus jalan-jalan ternyata nol besar. kita tetep stay di penginapan. Paling banter kerumah opung dilantai dua buat beli pop mie. Pagi itu, suasana dingin dan segar seperti momok bagi kami. Dan jam sepuluh nanti kita harus sudah berkemas meninggalkan tuk-tuk untuk menyeberang ke parapat. Karena check in pesawat kita jam stengah 6 petang, ditambah perjalanan Toba -> Kualanamu lebih dari 5 jam kalau tidak macet..
jadi, apakah Toba bisa disebut happinest atau sadness? …………….. L