post Istimewa

Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 September 2014

Sepatuku… datanglah…


“Tuhan… berikan aku sepasang sepatu, yang meski tanpa alas kaki. Ia tetap mau berjalan bersamaku saja. Yang setia dan slalu bersamaku dalam ketidaksempurnaanku sebagai manusia.”
 
Tulus berkata dalam lirik lagu Sepatunya….
“Kita adalah sepasang sepatu. Selalu bersama tak bisa bersatu.
Kita sadar ingin bersama, tapi tak bisa apa-apa.”

Ya, sepatu punya banyak fungsi selain melindungi kaki kita dari benda-benda yang bisa nusuk kulit kaki juga bisa buat gaya bagi kamu yang fashionable.beragam corak dari yang pastel sampe yang mencolok. Dari yang manis dipake kaki sampai yang kelihatan gahar…

Dari yang kelihatan feminism sampe maskulin. Sepatu itu aksesoris mutlak bagi orang-orang dengan jam terbang tinggi, yang penting jangan sampai lupa nyuci yak!

Udah berjam-jam gue habisin waktu keliling pertokoan dan Mall Cuma buat nyari sepatu yang cocok dipake kaki gue. Klo diitung-itung bisa nyampe beberapa kilo lah jalan-jalan gue hunting sepatu. Dan dari jutaan pasang sepatu yang gue temui, nggak ada satu pun yang nyangsang dihati. Entah kenapa, pusing sendiri jadinya.

Tipenya sih sederhana… nggak rumit apalagi aneh-aneh. Sepatu yang gue incar tuh model Boot diatas mata kaki yang nggak kelihatan feminim dengan warna pastel, tapi kulit yang klo dilihat tuh kelihatan kece gitu. Simple kan, tapi sepanjang sore sampe malam boot yang gue jumpai pasti klo nggak cowok banget ya cewek banget.. susah banget deh cyin…

Udah keliling beberapa Mall, terakhir di Ramayana. Nemu sih sepatu yang kece buat dipakai, warnanya coklat campur orange, mereknya dapet, harganya dapet, dipake nyaman,,, ekh, waktu minta tolong penjaganya buat nurunin ukuran dari 7 ke 6 ternyata nggak ada. Ya sudah… gue lepas… masak iya pake sepatu kedodoran. Kayak celana aja (>.<).

Dan sampe saat ini gue nyesel ngelepasin sepatu yang terakhir, semalam gak bisa tidur gara-gara gak jadi milih itu. Begini nih klo punya ukuran kaki lebih besar dari ukuran rata-rata para cewek dan lebih kecil dari ukuran kaki cowok kebanyakan. Pedih mblo… nyari aja susah, in time ketemu pun juga gak bakal “dimiliki” *,*)~

Kejadian malam tadi jadi reminder.. seolah-olah ketika gue nyari barang-barang yang gue ingini, malah ketemu barang-barang cowok yang banyaknya seabrek. Keren-keren dan modis meski potongan bajunya tetep gitu-gitu aja… yasudahlah.. besok nyarinya pas jalan bareng kamu aja dah (~v~) nyerah gue…

yang atas bikin falling in love.

Sabtu, 25 Januari 2014

Toba lake… here we’re coming #Medan part 6

satu-satunya foto kita bersama, meskipun yg satu tukang fotonya. kita terlihat seger loh :D
          Pagi itu juga, semua rencana yang udah kita buat jauh-jauh sebelumnya terpaksa digagalkan. Sederhananya, di hari terakhir menempati TBSU kita mendapat jatah jalan-jalan yang udah disediain pihak panitia. Sebagai tukang bawa berkas-berkas yang masih aja kurang lengkap. Pagi itu gue harus dapat tandatangan beberapa orang buat pencairan dana rektorat kampus gue. Gue kudu nunggu orang-orang yang bertugas sebagai panitia sampai ada ditempat. Gue udah biarin temen gue keleleran nggak tau gimana, sedang gue dibasecamp panitia nungguin seseorang sekaligus ngambil tebengan ini-itu juga sekalian nebeng ngeprint itenarinya kayangan yang terbaru.

          Jam delapan pagi udah fix, eh si micin malah pergi ke pasar sama abang guide orang medan buat beli kain Ulos. Entah mau beli berapa puluh lembar, gue Cuma nitip 2 buah aja. Males bawanya, apalagi suruh neteng bawaan sendiri. Ribet ntar. Lagian tadi malam udah tukeran sama bang boy anak Padang. Gue tuker sarung bali pink manis yang belinya pas acara PPA 5 teater orok-Udayana di depansar sama kain ulos hitam bermotif cantik milik bang boy. Beruntunglah dia mau J

          Waktu michin dah balik, kita bongkar lagi ransel-ransel trus ngepackin lagi tuh ransel. Setelah pamitan sama temen-temen senusantara yang akan berangkat tour keliling medan, kita melaju ke terminal Amplas ditemani seorang abang teater ‘O’, bang makin naik angkot seharga Rp 4.000/orang. Dan selalu sama kayak hari-hari sebelumnya, sopir angkot medan itu buas banget. Mereka gak bakalan mikir kita anak siapa, jadi jalannya nglibas semua rambu-rambu dan etika berkendara. Sangarrr pokok’e.
          Dari Amplas, kita nunggu Amy anak teater ‘O’ yang datang bawain kacamatanya mas champin yang tadi pagi ketinggalan d TBSU. Mana sempet hujan deres pula. Bah,,, sampai Amplas aja niat kami udah diuji. “Jalan terus ke Parapat” atau “See you bye-bye Toba kita balik saja”. Niat dan semangat yang kuat itu ngantar kita naik bus jurusan parapat siang itu juga. Tiket busnya Rp 32.000/orang sampai parapat. Kemungkinan kita akan sampai sana jam 4 sore.

          Karena kelelahan, semuanya tertidur lelap. Gue sempet ngrasain sopir busnya, sangar pisan uey klo nyetir. Bahkan kernetnya yang asli batak udah nggak bisa ngomong pelan, pake bentak-bentak para ibu-ibu yang jualan makanan diatas bus supaya cepet keluar. Beh… ngeri ble. Trus seorang ibu yang kebetulan duduk disamping gue sempet tanya

“Boru kau apa? Mo datang ke kematian siapa kau?”
“hah… saya? #gaya pengong, padahal ibuke sandingku pas# oh, saya nggak punya boru buk. Saya orang jawa asli”
“loh, kenapa kau pake tuh ulos hitam?”
“(#gue yang emang pake kain ulos buat selimut baru sadar, emang bener kata anak-anak medan. klo tiap warna ulos itu punya arti). Oh, ini saya beli tadi bu dipasar. Buat kenang-kenangan saja kok. Memangnya kenapa buk?”

Dari situlah percakapan hangat kami dimulai. Gue paling sering tanya soal ulos, kain yang bagus itu bagaimana, harga pasarannya berapa, agama, dan adat istiadat yang berlaku disana.

          Dari rentetan tebing-tebing tinggi yang semakin terbuka, kami bisa melihat danau toba yang sangat cantik warnanya. Udaranya segar seperti daerah Batu-Malang dan masih banyak monyet-monyet di pinggir jalan. Kami turun di pelabuhan Parapat untuk dapat langsung menyebrang ke tomok naik ferri seharga Rp 6.000/orang. Selama perjalanan dengan ferri itu, aku tak henti berucap syukur. Yeah, we hve been there… toba lake, the famous lake in southeast asia. Lihat pemandangan hijaunya, villa disepanjang garis danau. Warna bukit hijau cerah, air terjun, air danau dan langit yang cerah. Dan saat menyebrang itu kami tidak jumpai Adzan Magrib. Tiba di pelabuhan tomok, kami dengan santai jalan kaki. Tak seorang pun dari rombongan kami pernah backpacker sejauh ini.

          Kami jumpai banyak anjing lepas, penjaja shortali, dan becak modifikasi. Jalan kaki kami sudah jauh tapi yang dicari tak kunjung bertemu. Hampir menyerah dengan malam. Jam 7 malam dua orang dari kami mencari kendaraan, diwaktu seperti ini sudah tidak ada lagi angkuan umum. Maka kami menyewa sebuah mobil yang bisa mengantarkan kami ke penginapan seharga kantung mahasiswa. Mobil ini seharga Rp 70.000 sewanya.

          Nggak tau bagaimana mereka berkoalisi, malam itu juga sebuah keluarga batak menerima kami untuk mendiami penginapannya semalam. Itu pun kami masih harus bersikukuh untuk membayar seminimal mungkin #maklum mahasiswa# sampai akhirnya opung memberi harga Rp 150.000 per kamar. Kita ambi dua kamar yang menghadap ke danau. Tepat didepan kamar kita. Malam itu juga kami bongkar ulang ransel dan makan sekenanya. Senang bisa melihat toba, tanpa bintang dan bulan. Kelam, kami datang terlalu malam dan tidak ada yang bisa kami pandang.

          You know what? Kami datang ke toba hanya untuk “Numpang Bubuk” karena kami bertujuh sudah tewas sebelum jam 10 malam. Hahaha…

          Paginya, michin tidak bisa bangun dari tempat tidur, badannya panas dan lebih memilih tidur berselimut tebal. Mbak iin yang sakit sewaktu masih ada di medan juga udah agak mendingan meskipun masih panas (mimisan dan hidungnya pas nggak bisa bersahabat di kota orang) sudah lebih mendingan. Pesut yang badannya terasa paling panas dan sampe suaranya hilang ternyata makin parah aja pas mau nyebrang ke tomok, mas champin juga begitu! Udah suaranya hilang, badannya panas juga. Si ketum tetep stay on toilet, gue nggak tau kenapa kq dia betah dan nggak keluar-keluar dari toilet pagi ini. Kayaknya sih Vomitng. Ihsan tambah sehat aja, soalnya dia yang sakitnya paling lama. Lebih dari seminggu sejak beberapa hari menjelang berangkat ke medan dan sampai beberapa hari tinggal di medan. maklum, nggak tau kenapa matanya nggak bisa diajak kompromi. Padahal udah dicekokin obat mahal berkali-kali. Sedang gue…. ~(-,-)~ gue yang selalu berusaha terlihat sehat dan tanggap harus tumbang dan angkat tangan sejak perjalanan naik bus sampai bermalam di toba. Gila men!!! Perut gue mules banget, nggak kayak bulan-bulan biasanya. Ini bikin gue gak bisa move on dan cenderung diam aja. Ya… kita ke toba Cuma pingin ketemu airnya, sekalipun kita semua dibikin sakit (=,=)


          Pagi itu juga yang udah kita rencanain buat bangun subuh terus jalan-jalan ternyata nol besar. kita tetep stay di penginapan. Paling banter kerumah opung dilantai dua buat beli pop mie. Pagi itu, suasana dingin dan segar seperti momok bagi kami. Dan jam sepuluh nanti kita harus sudah berkemas meninggalkan tuk-tuk untuk menyeberang ke parapat. Karena check in pesawat kita jam stengah 6 petang, ditambah perjalanan Toba -> Kualanamu lebih dari 5 jam kalau tidak macet..
jadi, apakah Toba bisa disebut happinest atau sadness? …………….. L

Minggu, 19 Januari 2014

Perjalanan niat… #ekh bonus Ancol

background laut utara jhekarrrdah

            Kamu tau apa yang terjadi pada tanggal yang sama seperti hari ini di bulan oktober lalu?. Ya, tanggal 19 bulan Oktober 2013. Di hari sabtu yang cerah dan langit membiru bulan lalu, Malang masih menyambut kami dengan udara yang luar biasa. angin berhembus dengan mesra seraya memberi semangat yang senantiasa baru. Makanan dengan rasa yang bertambah nikmat saja karena hati kami berbunga-bunga. Entahlah, seakan semesta raya mendukung kesungguhan niat besar kami kala itu.

            Layaknya girl band Seven Icon, personil kita emang ada tujuh tapi nggak selebay mereka juga ~(-_-~)*. Mereka diantaranya ada Ainil alias I’in, Andhika si ketum, Anak produksi gue si Ihsan, kakak geblek gila Chempin, si kriwil Ratih, nduk Anisa alias Pesut dan akika, si bunga mawar Rosita. Hahaha… kami bertujuh menyatukan kekuatan pribadi kami dan membentuk satu kesatuan utuh yang tidak terpisahkan. Mulai hari sabtu itu bekal niat kami akan menjadi perjalanan ribuan kilometer yang penuh lika-liku dan menyita perasaan.

            Sabtu, 19 Oktober 2013 tepat pukul 15:25 WIB. Sebuah kereta api ekonomi dengan sembilan gerbong tujuan Malang-Jakarta telah tiba di stasiun Kota Baru, Malang. Kereta yang akan membawa kami sampai di Jakarta. Perjalanan yang kami tempuh sekitar seribu kilometer. Setibanya kami di stasiun kota baru pukul 15:40 WIB, teman-teman sanggar melepas kami dengan kehangatan dan do’a semoga perjalanan panjang kami akan selamat sampai dengan sekembalinya. Kami saling berpelukan dan mendo’akan. Bahkan keluarga besar salah seorang personil ikut melepas kepergian kami di stasiun kota Malang. Setelah cek in dan masuk ruang tunggu, 10 menit kemudian kereta kami berangkat. Bye malang… Jhekarrdah…. We’r coming…
            Sepanjang perjalanan panjang kami di kereta, sangat banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Merekam tiap moment yang terjadi alias ngrekam, ngepoto, ngturu,  ngemil dan ngoceh. Ya nggak senista itu juga sih, Cuma emang semenjak keberangkatan kami sudah swasembada makanan. Nggak Cuma makanan ringan kayak kapas dan gelembung udara, makanan berat, kernet daging sapi, sambal segepok, pernasian sama Orem-orem pun kami bawa. Keren kan… ditambah lagi ketika kereta api melewati stasiun Kediri, ibu seorang personil kami. Alias mamanya pesut udah nyusul ke pemberhentian kereta api di stasiun kota Kediri sambil bawain tiga bungkusan. Dua bungkus nasi goring penuh daging sama bak mie seafood . porsinya kayak beli di warung Ikana- kota Malang. Jadi satu porsi muat untuk ngisi 4 perut. Pastilah nih bungkusan bisa jadi temen yang care ntar malam.
           
            Sepanjang malam itu pula kami ngobrolin banyak hal. Sampe ibu-ibu yang duduk didepan mas champin kasih warning. Tapi ibuk itu juga seenaknya sendiri loh, sumpah!!! Mas champin yang tengah malam kebelet pingin ke toilet ninggalin bangkunya. Sedang kita berenam yang duduk di seat C, D, E, dua seat dengan kapasitas 6 orang dan saling duduk berhadapan. Awalnya kita santai. Eh, tu ibu-ibu malah kakinya diluruskan di kursinya mas champin dan nggak mau pindah sekalipun lihat mas champin berdiri. Kami juga ngerasa segan ngomong ke yang lebih tua. Tapi tuh ibu nggak pernah nyadar diri. So, 2 kursi berhadapan untuk 6 orang itu disulap jadi buat tujuh orang. Alhasil gue, pesut sama mbak iin yang berbadan subur dapat tempat istimewa buat duduk bertiga. Sedang mas champin, ihsan, michin dan mas dika yang dikategorikan berbadan lurus-lurus saja udah bisa muat untuk duduk berempat. Kasihan sih, tapi kita tetep aja bisa enjoy. Bahkan kita sempet tidur pulas semua kq. Sampe pagi harinya sekitar daerah tegal, mas champin dapat seat kosong buat duduk sendiri.
            Terlambat dua jam dari jam kedatangan kereta di stasiun pasar senin, om-nya micin datang disaat yang tepat. Beliau yang tinggal di depok jauh-jauh datang bawa mobil innova-nya mau ngangkut kita ke pantai ancol. Pantai yang sering nampang distasiun televisi negeri ini. Selama perjalanan dari stasiun pasar senin ke pantai ancol, kami banyak ngobrol ala mahasiswa geblek. Untung om-nya michin berjiwa muda, jadi nggak takut salah ngobrol remeh-temeh. Bahkan beliau pernah bilang, “ ya ini nih tujuh orang kampung masuk kota” sambl ketawa keras. Haha.. kami sadar kalau itu gurauan, soalnya anak-anak mana ngaruh dengan omongan begitu. Mereka malah asyik aja cerita soal rosokan mbak intan, banjir, macet dan inventaris. Kebanyakan kerja lapangan bareng kita emang selalu terbersit pikiran yang indah untuk memindahkan barang cantik yang kurang terpakai supaya bisa dimanfaatkan utilitasnya oleh orang banyak. Alias memindahkan barang ke sanggar hampa trus dikasih stiker Inventaris. Geblek kan?!

Michin niatnya ngambil kacamata. tp gue gak tau kenapa mereka begitu
            Ada juga yang cerita tentang gedung-gedung tinggi, entah bagaimana menuliskannya. Bahasa antara kita untuk menggambarkan sesuatu terkadang emang sulit dijelaskan lewat kata-kata. Haha… bahasan kami nggak pernah lepas dari Sarimin, monolog bertokoh monyet yang lagi dipelajari mas champim. Pembantu semacam TKI dalam naskah Sumarah yang baru aja jadi prosesnya si pesut. Aku, mbak iin, ratih sama andika yang bakal mentasin “Ayunan” juga nggak lepas dari kata sayang, penjual Koran, mengacalah dan rupa-rupanya kamu rupa rupanya (dialog gue yang harusnya dilafalin “ rupa-rupanya kamu mulai lupa rupanya” |maklum belibet ngomongnya). Omongan kayak gini nggak pernah bakal habis buat diceritain.


Sarimin memegang pucuk gedung *,*

            Sampai di pintu masuk ancol, anak-anak di seat mobil belakang disuruh sembunyi sama om-nya micin. Mereka para cowok-cowok itu percaya dan langsung gerak, ada yang nutupin diri pake sarung/jaket, ada yang langsung duduknya melorot kebawah. Pokoknya mereka sembunyi dari petugas pintu masuk supaya nggak bayar. Ahaha.. padahal om-nya micin Cuma bercanda doang. Alhasil masuklah kita ke ancol, udah bawa mobil orang, free pula tiket masuknya (Makasih ya om,,, akhirnya stelah penantian bertahun-tahun kami lolos juga masuk pantai Ancol gratis #Lohh). Keliling lagi, jalan-jalan lagi, foto-foto… dan, siang yang terik itu pula kami merasakan pesisir utara Jakarta yang panas dan bersih… sehari tinggal dijakarta sebelum besok harus lepas landas lagi ~(+,+~)… Jhekardahhh ,,,
I will be there again next month \(*,*)/