post Istimewa

Senin, 05 Januari 2015

BROMO… on 2nd Edition

Liburan tahun baru, kebentur liburan semester, kebentur awal tahun tuh rasanya kayak kepala yang dijedotin ke blackforest cake. Manissss banget…

Alhamdulillah ya… setelah tidak merencanakan liburan kemana-mana karena khilaf diskon buku murah akhir tahun. Kesempatan buat liburan menghampiri saya begitu saja. ~tanpa melempar kail, ikan pun jadi follower~ meski perumpamaannya agak maksa, tapi taulah ~(v,v~)* ehehe

Masih dalam tanggal –tanggal muda tahun baru 2015. kala itu kurang lebih jam 6 sore ada bestie yang sms, isinya sih kurang lebih minta bantuan untuk nemani perjalanan ke Bromo. Karena posisinya yang nggak tau jalan dan kebetulan ada “Tamu” dari Aceh. Nagari Nan Jauh Dimato… Ulalalaaa…. Maap ya Lem (nama panggilan) aye lagi buka lapak cerita di blog ketje gueee. Wkwkwk

Orang yang dipanggil Lem (yang dalam bahasa Aceh, juga nggak tau artinya saya L) adalah abang Mulya, seorang duta wisata Aceh 20XX (maaf lem, aku nggak tau antara tahun 2013 atau 2014 sih ). Kami kenal beliau sewaktu ada acara jambore nasional di Jakarta bulan November lalu, tapi sebetulnya Februari 2013 juga udah pernah liat sih di salah satu festival “parlente” di Surabaya. Pemuda asli Aceh yang berbakat dari segi seni (as I know) terutama kepiawaiannya dalam memainkan budaya Tutur cerita khas Aceh. Orangnya Ketje… soalnya klo nggak, pasti kagak kepilih jadi Duta. Trust me, it’s true.. wkwkwk

Salah seorang lagi namanya Ali Maula, nama singkat yang biasa dia pake buat semua jejaring Sosial medianya. Yah, termasuk kelompok adam yang pandai bersolek di depan kamera. Mungkin karena di juga Ketje sih. Ini tuh sepupu Lem yang baru pindah ke Surabaya buat kuliah pertekstilan. Meski darah Aceh juga, Al itu klo ngomong udah nggak terlalu sengau. Jadi masih bisa didengarkan telinga saya yang memang sejak lahir udah terbiasa dengar aksen medok.

Pasalnya bahasa daerah mereka benar-benar tidak bisa ditirukan oleh kami, seperti membaca huruf hijaiyah dengan penekanan pada huruf kha, khi, ngau, dan banyak penggunaan huruf vocal. Sedangkan kita yang Jawa kebiasaan ngomong medok, dengan aksen tho, dho, nyo, persis tulisan hanacaraka yang dipublikasikan sejak jaman Bahoela itoeh… J

Both of them was nice, I don’t know why. They have said that was lineage by Arabian and Hindustani. So, most of them have sharp nose with white skin. So, looks perfect. Just it…

Here I posted some pictures between us. Me, my bestie Ratih, bang Mulya  Lem and Ali.
Ketje itu klo loe lagi take action sedangkan temen loe kagak 
try to pose
just fell free here

Wanna know about our expedition?  It’s easy..
Kami berangkat kira-kira jam 10 malam menuju Bromo untuk mengejar sunrise yang terbit sebelum subuh. Karena jalur yang aman hanya lewat kabupaten probolinggo, kami dengan bahagia memilih jalur memutar start kota malang… menikmati jalan penuh liku dan udara ekstra dingin yang kemudian menyinggahkan kami pada sebuah point of view disalah satu tebing menuju Bromo. Tempat sunrise ramai dibicarakan, sayangnya kami tidak mendapati moment ini.

Sepanjang hari itu sangat Amaizing. setelah turun dari puncak kawah Bromo, kami memutuskan untuk pulang lewat jalur yang berbeda dari arah kedatangan kami tadi malam. Saya benar-benar menembus badai pasir yang terlihat seperti topan. Mungkin karena kurang pemahaman kali ya, jadi bukan menunggui badainya berlalu tapi malah menerjang badai begitu saja ~(-,-~)*. “Pasir Berbisik” merupakan tempat badai-badai pasir berlalu lalang. Kemudian jalanan yang ekstra KETJE juga menyuguhkan deretan bukit Teletubies. Desa terakhir diujung pertigaan, Desa Ngadas pun sangat menarik.

Kami berempat menyukainya… tentunya Bromo recommended lah untuk dijadikan tempat liburan…
dari kiri ke kanan: bang mulya, ratih, aly dan saya (v,v)

And this is my 2nd trip to Bromo, still with those western island. hohoho….. hopefully not with the 3th time get the same partner >.<*