post Istimewa

Kamis, 10 Januari 2013

Demisioner alias lengser



          Alhamdulillah mempunyai makna kepuasan tersendiri. Untuk saat ini arti kata itu adalah segala puji syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas kepercayaan-Nya kepadaku untuk memegang tampuk kepemimpinan di suatu organisasi sebagai koordinator alias kepala rumah tangga.Jabatan satu tahun dengan kadar tanggung jawab yang berat bagi seorang mahasiswa baru. Hanya satu tahun untuk bergerak dan mempertanggung jawabkannya. Ketika hari untuk mempertanggung jawabkannya tiba, berdesir darah dalam dada dan terasa bahwa waktu satu tahun itu tak berarti apa-apa. Dan ketika demisioner, haru biru dan ketidakikhlasan melanda.
          Koordinator bidang yang membidangi seluruh hal yang berkaitan dengan kelegawaan anggota, mencari anggota, merawat anggota, semua hal didedikasikan kepada anggota agar tetap bertahan dan merasa nyaman dapat berkumpul bersama. Merapikan arsip yang berserakan, mendata dan merawat barang bersama yang kami punya serta mengumpulkan saudara sekalian atas sebuah event yang akan digelar. Awalnya terasa menyenangkan sekali untuk mencurahkan seluruh waktu luang atas hal ini. Namun lambat laun secara perlahan lahan, keharusan untuk memahami pribadi anggota semakin menyita perasaan sendiri (*efek labil*) akhirnya tanggung jawab itu tergadaikan beberapa kali.
          Didampingi oleh dua anggota bidang yang aku pilih secara pribadi dengan cara melamar mereka, aku senantiasa berusaha terlihat mampu mengatasi setiap permasalahan yang ada, agar mereka masih tetap berdiri di belakangku. Dua anggota bidangku lebih tua tingkatan akademiknya, dengan tidak menggurui dan mencoba mengikuti beberapa kemauan mereka merupakan cara yang bagus untuk tetap menjaga kekompakan. Apalagi bidang kami terkenal sebagai bidang yang anggotanya selalu aktif sampai akhir kepengurusan.
          Mbak Riza, mahasiswa semester lima jurusan sastra inggris yang selalu berusaha membantu dalam segala hal. Mencoba memberi pencerahan dengan memberi masukan saran serta kritik. Dia adalah anggota yang kulamar paling akhir karena sebelumnya semua lamaranku ditolak, namun tak kusangka kalau mbak ini akan bersedia dan loyal di bidang ini. Walaupun aku selalu saja bertampang tidak bersahabat dan mencarinya saat kubutuhkan bantuannya. Yah, mbak satu ini walaupun selisih dua tahun dengan usiaku, namun perhatiannya tidak terlepas dari permasalahan rumah tangga.
          Satu lagi namanya Andhika, mahasiswa Psikologi semester tiga yang sifatnya cuek. Mungkin karena lesung pipi dan gigi drakula yang dia punya, dia terlihat begitu menawan, tak khayal bila dia menjadi idaman semua wanita. Khususnya di kompleks UKM yang paling intens dia kunjungi. Mas berkacamata ini lebih menyukai turun tangan langsung terhadap sebuah acara/masalah dari pada memberikan idenya secara lisan. Sebelumnya lamaranku sempat di PHP-in (*baca Pemberi Harapan Palsu) karena dia masih punya harapan untuk bergabung dengan bidang lain yang lebih menantang. Namun akhirnya lamaranku diterima juga. Keuntungannya, dia tanggap terhadap sesuatu yang dia kuasai, menguasai desain dan atlet taekwondo.
          Jadilah Rumah Tangga diisi oleh orang-orang dari beberapa tingkatan semester. Merangkul anggota yang lebih tua itu tidak mudah, rasa segan dan tidak ingin terlihat bodoh selalu saja muncul. Sangat sulit untuk mensinkronkan arah pembicaraan. Akhirnya aku mulai dengan cara yang diajarkan oleh salah satu tetua dengan memancing tawa, hal yang sulit aku kuasai ini merubah pembicaraan kearah gojlokan. Alias mencari celah agar bisa menarik perhatian  mereka kepadaku. Alhasil, ada beberapa orang yang ilfeel melihatku.
          Peka terhadap situasi dan kondisi anggota juga nilai tambah lain. Lagi-lagi dengan alasan semester dua(baru merasakan kuliah), sifatku masih sangat labil. Jangankan memperhatikan orang, aku saja selalu mencoba mencari perhatian dari orang lain. Bahkan sempat beberapa tetua memarahiku dengan langsung tunjuk hidung atau menyindirku di depan bidang lain. Aku selalu tak tahan untuk tidak memendam perasaanku hingga air mata itu tumpah dan keesokan harinya aku tiada lagi ada niatan pergi ke sanggar. Semacam itulah keababilan yang kumiliki kala itu.
          Perlahan-lahan dengan semakin banyaknya moment dan program kerja yang telah terealisasikan. Rasa egois dan mencari perhatian itu mulai terkikis perlahan. Saat aku benar-benar harus kehilangan anggota dan jabatanku, rasa itu mulai menekan perlahan. Rasa tidak ikhlas untuk kehilangan mulai menekan... perlahan... hingga kuucap Alhamdulillah atas beban yang sudah tercabut. Aku mungkin tidak mampu berkata banyak, berbuat lebih banyak, dan mengalah lebih banyak. Mengenal Hampa dan anggota bidangku sendiri adalah hal istimewa di tahun pertama menjadi mahasiswa. Bersanding dengan dua orang kuat yang selalu menenangkan dan menguatkan pijakanku adalah berkah tersendiri dari tuhan. Dengan beberapa ingatan masa lalu di awal kepengurusan, air mata berlinang, tanpa sadar kutulis di kertas yang kupegang. ”Demisioner Rumah Tangga 2013, Desember, 24 2013. Dengan penuh rasa terima kasih, terima kasih semuanya yang telah membantuku selama proses pendewasaan satu tahun. Terima kasih yang tak terkira. Kalian keluarga baru yang baik. Aku tak kan pernah lupa. Dan untuk kepengurusan kedepan, aku ingin keluar dari zona nyaman dan beralih ke ideologi yang dulu erat terpegang.

Surakarta, 29 Desember 2012
12:32 AM