“……………………apa niat
kalian untuk kuliah?” orang yang masih aku panggil dengan sebutan bapak
bertanya pada kami yang dini hari ini sudah tiba di sekret JKJT untuk briefing
konsumsi.
“biar nggak cepat-cepat
dinikahkan pak. Jadi memperpanjang masa lajang.” Jawabku penuh pertimbangan.
“Kalau kamu?” menunjuk
satu per satu dari tujuh orang se-timku.
Beragam jawaban yang
telah mereka lontarkan memiliki inti yang sama. Ada yang karena ingin mencapai
cita-cita, ingin belajar ilmu yang didalami, memiliki pekerjaan yang
menghasilkan dan untuk surfing masa
muda yang jangkanya masih lama. Sempat antara kami bertujuh dan bapak itu ada beberapa
jeda untuk berfikir dan saling melempar kata. Dan beliau masih menanggapinya
dengan wajah teduh.
Lalu setelah satu demi
satu jawaban terkantongi, bapak itu mulai memberikan argument mematikannya. Ya,
kenapa aku bilang mematikan? Karena aku tidak pernah bisa selalu setuju dengan
pemikiran orang-orang. Aku selalu memberi batasan tinggi pada pemikiranku
sendiri. Layaknya jaring/pukat harimau yang menyambar ikan paling kecil, agar
semua hal yang aku dengar dapat aku serap kebenarannya. Dan beliau berhasil
membuatku menerima penuh pemikirannya tanpa sempat menyekat kata tak bermakna.
Kata-katanya begitu tertata dan sempurna.
“hampir semua orang
selalu berkata seperti itu. Mereka ingin meraih pekerjaan yang menjadi
cita-cita dan harapan. Setiap orang berlomba untuk meraih kebebasan pribadi.
Namun, itulah cacat pendidikan kita. Itu yang mematikan pikiran kita untuk
berkembang. Kenapa ayah bilang begini? Karena sejatinya dari pendidikanlah kita
dapat belajar agar hidup yang kita miliki jadi bermanfaat.” Tukas bapak itu.
Bermanfaat,,,
bermanfaat,,, bermanfaat… kata yang terus aku camkan pada diriku sendiri.
Apakah aku pernah berfikir bahwa aku hidup untuk bermanfaat? Bapak itu
menyatakan bermanfaat dengan makna yang paling telak. Karena dengan bermanfaat,
seseorang pasti melakukan dengan tulus. Ketulusan itulah yang mengantarkan kita
pada kesuksesan. Bukan sekolah untuk meraih kesuksesan melainkan bersekolah
untuk mengerti bagaimana membuat hidup yang bermanfaat dan rasa tulus menghasilkan
kesuksesan dari hal-hal yang kita kerjakan.
Kami bercerita banyak
hal. Tentang pendidikan, anak-anak, peran pemerintah, kegiatan sosial, dan kemanusiaan.
Hal yang peling sering didengungkan dari tempat yang aku berada kini. Apakah
kamu masih ingat ketika kita masih duduk di bangku sekolah dasar? Guru-guru
kita yang selalu ramah mendogma kita dengan kata-kata “siapa yang punya
cita-cita jadi dokter? Klo mau jadi dokter harus ? (pintar), klo mau pintar
harus rajin be…? (lajar). Ya… sejak kita masih di sekolah dasar, dogma
menjalari pemikiran bening kita. Yang menjadikan kita terkungkung dengan alasan
kita harus bersekolah. “Kebebasan”
harusnya kata ini yang banyak didengungkan pada kita kala itu, agar kita tidak
membatasi diri dengan cita-cita yang tinggi dan sudut pandang sempit. Bukankah klo
kamu ingin bekerja menjadi …(sesuatu). Kamu bisa menempuh lewat jalur
pendidikan seperti sarjana, program master yang semua itu harus dibayar dengan
uang. Uang… artinya, mimpi bisa dibeli asal kita punya duit.
Beliau juga berkata
tentang kehidupan. Kamu tau kan kalau ada orang kaya pasti ada orang
miskin!. Orang kaya adalah orang yang
mulai jaman embah kakungnya udah kaya atau orang yang pintar memanfaatkan
kemampuannya untuk melindas yang lain. Mereka yang sering kita sebut kumuh dan
miskin bukan karena mereka orang bodoh. Mereka bukan miskin karena keadaan.
Tapi keadaanlah yang membuat mereka bertambah miskin. Seorang anak yang setiap
hari ngamen sebenarnya nggak berharap ngamen menjadi ladang pekerjaannya. Bisa
jadi dia pintar bukan?. Dia jadi semiskin itu karena dia tidak bisa belajar di
bangku formal maupun informal. Dia harus membuang seluruh waktunya dijalanan
untuk mendapatkan uang. Demi kebutuhan lambung tengahnya. Sehari dia lengah,
anak jalanan itu bisa saja mati. Benar kan?
Di tempat ini pula
banyak anak jalanan yang datang untuk menginap dan pergi begitu saja. Seperti
itu setiap kalinya. Anak-anak dengan tattoo, tindik dimana-mana, pricing,
rambut botak, dicat dan banyak pula yang gondrong. Kulit mereka coklat
kehitaman yang terlihat lusuh dan seperti tak pernah mandi. Ya, mereka
orang-orang jalanan. Tapi kamu tau tidak? Mereka punya harapan besar untuk
berubah menjadi lebih baik. Mereka suka diajari apapun, apapun yang bisa kau
ajarkan. Senyum mereka… merekah tulus dengan sangat lebar. Mata mereka penuh
dengan harapan yang sedang tertutup pasir hitam, keruh tak berdasar. Mereka
manusia…. Apakah kamu pernah memanusiakan manusia?
Itu kata-kata paling
mengenang dipagi butaku hari ini. Sebagai seorang relawan yang baru kali ini
turut serta dalam sebuah acara jaringan kemanusiaan, kami banyak bertemu
orang-orang baru dengan latar belakang yang sangat berbeda. 180˚berbeda dengan
kita sayang L mereka sebagian besar bertato, berambut panjang dan
seperti preman tobat. Usut punya usut ketika aku mencoba mengobrol dengan
relawan lain. Mereka yang secara fisik seperti itu adalah orang-orang dengan
masa remaja kelabu yang telah menemukan titik balik. Hati nurani mereka kini
berfungsi lebih baik, obat penghapus sesal atas kelakuan buruk mereka dulu.
Hati nurani… hati nurani yang menuntun mereka menuju jalan kemanusiaan.
Setelah bercakap-cakap
dengan beliau, bunda maria yang kerap kami sapa bunda ria mengajak kami pindah
ke basecamp konsumsi. Tempat kami
mengatur makanan yang akan didistribusikan pada 278 pasang calon pengantin.
Sempat sebelumnya down karena ditunjuk menjadi leader untuk membagikan konsumsi
yang kata bunda, dibatasi itu. Klo berkata jahat. Ya, kita sedang menjadi orang
jahat. Karena kita orang konsumsi yang dituntut adil dan rata. Sementara bunda
sempat berkata saat briefing
sebelumnya bahwa bunda hanya menuntut tanggng jawab pada kita sebagai orang
yang diberi kepercayaan memegang konsumsi. Sempat aku dan ketiga temanku hampir
tepar karena kami harus membagi ratusan nasi kotak, padahal sejak pukul tiga
pagi saat kami tiba, kami belum pernah mengunyah dan minum sesuatu sama sekali.
Ya, orang konsumsi itu keras. Kejam brooo…
Dan selepas membagikan
jatah makan pagi, aku sempat bertegur sapa dengan seorang mas yang bertugas di
perlengkapan gedung. Ketika aku bertanya seorang lelaki yang sempat aku panggil
bapak tadi ternyata bernama Agustinus (singkat: Ag.) Tedjo atau yang sering
dipanggil oleh semua orang dengan sebutan ayah.
Orang yang berjuang untuk memanusiakan manusia mulai ujung negeri ini ke ujung
yang lainnya dinusantara. Ayah adalah pendiri jaringan kemanusiaan jawa timur
dan menjabat sebagai ketua umum. Wow… orang yang aku sapa tadi pagi adalah ayah
kami semua. Walau hanya bercakap-cakap selama lima belas menit. Ilmu-ilmu
berharganya banyak yang telah kami serap.
Ayah adalah anak
seorang dosen di kampusku dulu. Saat kecil beliau hanya sekolah TK selama satu
tahun, bangku sekolah dasar lima tahun, bangku sekolah menengah dua tahun dan
sekolah tertingginya hanya sampai S2. Ya… SMA kelas dua. Hal ini sebagai sebuah
bentuk protes ayah terhadap pendidikan yang membekukan pemikiran kita. Ayah
menentang pendidikan dengan keras… sampai akhirnya dia jatuh dalam pergaulan
jalanan. Ada sesal yang sempat terucap, namun dia selalu bersyukur karena
mungkin dengan cara itu, ayah bisa menolong orang lain lebih banyak.
Oia, sempat beliau
berucap tentang bunda ria. Bunda ria adalah ibu dengan dua anak yang sangat
cantik dan tampan. Julian dan saudaranya tidak pernah tau siapa bapaknya. Bunda
adalah korban kekerasan terhadap wanita. Dia sempat jatuh terpuruk dalam
kubangan tak berdasar. Hingga ia tersadar dan mencoba bergabung dengan jaringan
kemanusiaan dan memperjuangkan hak-hak wanita yang terenggut orang lain. Ya,
sekarang bunda memperjuangkan hidupnya hanya untuk orang lain. Itulah mengapa
bunda terkenal dengan sikap keras dan tegasnya. Semua tau ini, dan semua
memanggilnya bunda. Tapi beliau memperlakukan manusia layaknya manusia.
Bagaimana menghargai orang lain, mempercayai orang lain, menyemangati orang
lain, memeluk kami kala kami mengeluh dan menggandeng erat tangan kami saat
berlari kearah mobil patrol yang membawa ratusan pasangan suami-istri. Bunda….
Kami sayang bunda…
“dulu ada seorang anak
perempuan. Dia lahir dari rahim seorang pelacur dan ibunya membuangnya. Bayi
perempuan itu ditemukan oleh seorang pemulung. Maka ia dibesarkan oleh keluarga
pemulung. Namun, ketika gadis itu berumur dua belas tahun. Seorang pemuda yang
berstatus mahasiswa salah satu perguruan tinggi dikotaku telah memperkosanya
dan mencampakkannya. Dalam keputusasaannya kala itu, dia menemukan tempat
bernaung. Ya, jaringan kemanusiaan ini mau menampungnya. Kata ayah, hampir
semua orang peduli dan care
dengannya. Bahkan, mereka mengganggap gadis itu sebagai salah satu bagian dari
alasan mengapa kemanusiaan patut ditegakkan. Ya, semua relawan juga bersimpati
padanya. Namun, dia memilih keputusan untuk menghilangkan nyawanya sendiri dan
menuliskan sebuah pesan. Yang berbunyi :
Ayah,
sudah takdir dewi untuk memilih jalan ini. Maafkan dewi ayah, dewi mengambil
jalan ini karena dewi tidak ingin meneruskan karma dewi pada anak yang dewi
kandung. Terima kasih untuk perhatian dari ayah selama ini.
Cessss…… tiab-tiba bulu kudukku berdiri. Pertanda apa
ya Tuhan… dia tidak memilih lahir kedunia dari ibu yang mana. Tapi takdir
begitu keras. Sebenarnya akan ada jalan yang terang sesudah gelap. Namun dia
telah memilih untuk berhenti pada jalan yang gelap. Dia tidak salah, yang salah
adalah kita. Karena kita tidak pernah peduli pada orang lain. Ya, kita yang
selalu judge the book by the cover. Maka, marilah kita mengubah mindset kita.
Karena diluar sana, ada jutaan orang yang hidup jauh dibawah kita saat ini.